Laman

Kamis, 02 Desember 2010

Mulut Robek

Hohoho... Udah lama ane kaga main di dunia maya. Maklum, habis pembagian rapor Semester 1. Nah, untuk memulai awal postingan kembali, ane punya cerpen yang ane bikin buat tugas B.Indonesia. Lumayan... dapet nilai 91 !! 
  

Ane dapet inpirasi dari film jepang yang judulnya Kuchisake-onna. Pasti yang udah pernah nonton tau kan.. Kalo ada yang belum tau tuh film, bisa diliat di postingan ane Kuchisake Onna - The Slit Mouthed Woman (Wanita Bermulut Robek). Yaudah, nih silakan baca aja ya. Oh ya, mungkin kapan-kapan ane bakal posting cerpen buatan temen ane. Please, Enjoy... 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 Mulut Robek
karya Sarah F. A. Wijaya



Hari ini langit tampak mendung. Batang hidung matahari pun tak terlihat diselimuti oleh gumpalan awan. "Tampaknya hari ini akan hujan", benakku dalam hati. Hari ini aku ada acara bersama teman-temanku. Kami akan menonton film bergenre horor. Judul filmnya yakni Kuchisake-onna, yang dalam B. Indonesia berartikan "Wanita Bermulut Robek". Film ini direkomendasikan pada tahun 2006 di negri nan jauh. Negri sakura. Suasana ruangan yang gelap dan suara yang menggelagar mendukung film horor tersebut. Al hasil, semua orang ketakutan setelah menyaksikan film tersebut, termasuk diriku juga.

Rintik-rintik hujan mulai membasahi kota yang terkenal akan buah dan dodol nanasnya. Hingga di rumah, hujan masih berdecir deras. Matahari mulai tergantikan oleh bulan. Kilatan guntur turun ke bumi menggelegarkan hatiku. Aku masih teringat dengan wanita bermulut robek tersebut. Apakah dia akan datang menghampiriku kemudian membunuhku? Pertanyaan tersebut menyelubungi pikiranku. "Tapi, ah.... mana mungkin wanita bermulut robek itu akan datang menemuiku. Lagi pula, dia kan tidak punya paspor dan visa untuk terbang ke negri garudaku ini. Hahahaha.." aku berusaha menenangkan diriku.

Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Jam usang yang masih setia mendentingkan jarumnya guna memberitahukan waktu. Kurebahkan tubuhku di atas kasur Clarissa milik ibuku. Terasa nyaman sekali. Diriku terbawa hanyut ke dalam mimpiku. Mimpi yang semua orang tidak menginginkannya. Mimpi buruk yang memberatkan hati. Dalam mimpiku aku berjalan sendirian di tempat yang sepi dan gelap. Tampak tak ada tanda-tanda kehidupan. Aku terus berjalan berharap aku bertemu seseorang. Tapi, tak ada seorang pun di belakangku.

Bulu kuduk, bulu ketiak, hingga bulu-buluku yang lainnya mulai berdiri. Aku masih merasakan ada seseorang yang mengikutiku. Langkah kecilku berubah menjadi lari kecil. Saking ketakutannya, dari lari kecil kini aku mulai berlari. Berlari sekencangmungkin hingga ribuan tetes air keluar dari pori-poriku membasahi sekujur tubuhku. Aku menghentikan lariku. Aku sudah tidak merasakan seseorang membuntutiku lagi. Mungkin orang itu kelelahan mengejarku. Aku melihat ke belakang. Sesuai dugaanku, tidak ada seorang pun dibelakangku. Aku membalikkan kembali wajahku, dan.... ada seorang wanita dihadapanku! Terlihat sangat menakutkan! Aku terjatuh di atas aspal yang keras. Aku ketakutan! Bahkan aku sampai ingin menangis. Apakah itu wanita bermulut robek? Sesuai ciri-cirinya, wanita itu memang Kuchisake-onna. Dia berambut panjang dengan masker putih menutupi mulutnya yang robek. Dia memakai mantel tebal serta membawa gunting kebun yang besar.

Apakah dia benar-benar Kuchisake-onna? Apakah dia akan membunuhku? Apakah dia telah selesai membuat paspor dan visanya? Apakah dia terbang naik pesawat Garula Indonesia? Wanita itu membuka maskernya dan memperlihatkan mulut robeknya dari telinga sampai ke telinga satunya lagi. Dia menanyakan sesuatu kepadaku dengan suara yang menyeramkan, "Watashi kirei?". Dia bertanya menggunakan bahasa Jepang. Bagaimana ini? Aku tidak bisa bahasa Jepang! Masa harus dijawab pake B. Indonesia?! Atau pake B. Sunda sekalian?! Ya sudahlah.... dari pada pikir panjang yang bikin otak stres sampai bikin kepala botak. Aku menjawabnya dengan menggunakan B. Inggris karena B. Inggris adalah bahasa internasional. "Sorry, ma'am. I don't speak Japanese". Tampaknya wanita bermulut robek itu kesal setelah mendengar jawabanku tadi. Dia kesal apa karena jawabanku tidak seperti yang dia inginkan atau tidak mengerti B. Inggris? Wanita itu kemudian menunjukkan guntingnya yang besar dan mengarahkannya kepadaku. "Aaaaaaakh," aku berteriak dengan kencang. Kemudian aku terbangun dari tidurku. "Huuft... ternyata tadi hanya mimpi", ucapku sambil mengusapkan tangan ke dadaku guna menenangkan diri.
Satu minggu berlalu. Aku sudah tidak memimpikan Kuchisake-onna lagi. Kulewati hari-hariku seperti biasa. Hingga suatu hari, aku sedang berjalan menuju sekolahku. Tampak seorang wanita sedang memperhatikanku dari Hotel Subang Palaja. Jangan-jangan.... Apakah dia Kuchisake-onna? Apakah kali ini dia menjadi turis dan menginap di hotel tersebut? Siapa yang tahu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar